Beberapa
minggu ini media massa Negeri Sakura ditaburi berita tentang seorang
mantan artis idola ternama yang terjerat sanksi hukum karena telah
mengkonsumsi barang sejenis psikotropika. Belum hilang dari ingatan,
beberapa bulan yang lalu juga, seorang personil group musik ternama di
negeri ini (Jepang) ditahan pihak aparat karena kedapatan mabuk dan
bertelanjang bulat di sebuah kompleks taman di Tokyo. Menariknya, kedua
orang ini berbicara di depan puluhan media massa, menyatakan dengan
lantang bahwa mereka telah melakukan kesalahan dan berjanji dengan tegas
tidak akan mengulanginya lagi.
Tentu
di luar permasalahan yang berkaitan dengan orang ternama, masih banyak
lagi kasus lain yang akhirnya sampai di meja aparat, mulai dari
pemalsuan daging berkualitas di sebuah restoran, korupsi dalam
perpolitikan, hingga kekerasan fisik di lembaga pendidikan sumo yang
mengakibatkan kematian. Intinya, seorang yang melanggar peraturan, tanpa
memandang terkenal atau bukan, kaya atau miskin, patut dikenakan sanksi
yang sepadan. Tentu, ini bukan hal baru bagi semua insan di jagad raya
ini.
Terlepas
dari seberapa besar, lama, serta pengaruh-pengaruh sanksi yang didapat,
ada suatu budaya menarik yang bisa kita cermati dari negeri asal
Mushashi ini, yaitu berani mengakui kesalahan secara terbuka dan meminta
maaf dengan tulus karena perilakunya telah meresahkan masyarakat luas.
Mungkin
hal ini terkesan sederhana, tapi kalau kita perhatikan ungkapan sesal
dan permohonan maaf ini tidak hanya melibatkan orang yang bersangkutan,
namun sampai pada perusahan atau instansi tempat orang itu bernaung.
Bahkan, seringkali kita bisa saksikan orang yang memiliki posisi
tertinggi dalam organisasi itulah yang lebih bertanggung jawab,
sampai-sampai beberapa dari mereka akhirnya memilih mengundurkan diri
dari posisinya karena kejadian tersebut.
Mengapa
hal ini bisa terjadi dan sampai sejauh mana sebenarnya rasa tanggung
jawab yang dimiliki pimpinan-pimpinan di negeri yang dipandang maju ini?
Dari
berbagai percakapan di Jepang, pada dasarnya kata “maaf” atau dalam
bahasa mereka “sumimasen” acap kali terlontar, entah ketika mereka
berhadapan dengan seseorang dalam suatu pertemuan yang tidak disengaja,
atau dalam perjumpaan yang telah disepakati. Memang, kata ini sering
hanya diartikan sebagai ungkapan permisi, meski kenyataannya, kata ini
telah diaplikasikan dalam arti yang lebih luas.
Ungkapan
ini tentu tidak mengacu pada kata maaf yang mereka sampaikan secara
ugahari karena kesalahan yang telah mereka perbuat. “Hansai” atau apa
yang mereka istilahkan sebagai refleksi diri sebetulnya adalah ide
sentral dari kebudayaan negeri ini.
Ungkapan
ini merupakan pengakuan bahwa mereka benar-benar telah melakukan
sesuatu kekeliruan dan dengan ini bersedia memperbaikinya. Seorang
pimpinan atau manajer adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam
perusahan atau instansinya, sehingga merekalah yang mesti berhadapan
dengan publik secara langsung.
Bagaimana
dengan negeri kita sendiri, Indonesia. Banyak pejabat justru dengan
bangga melakukan berbagai kesalahan dan perbuatan korupsi yang menyakiti
hati rakyatnya. Beranikah kita mengakui salah dan mundur dari jabatan
yang diemban kalau memang bersalah.
Christianus I Wayan Eka, MA, asisten pengajar pada Faculty of Policy Studies and Faculty of Information Sciences and Engineering, Nanzan University, Jepang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar